Minggu, 10 Juli 2011

Peran Guru di Sekolah


Dalam pasal 31 UUD 45 :”tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran” membuktikan adanya langkah pemerataan pendidikan bagi seluruh warga Negara Indonesia, sehingga tidak mustahil masalah pendidikan dalam operasionalnya akan semakin luas pula.
Pemerataan kesempatan pendidikan juga telah menjangkau segala lapisan masyarakat di perkotaan dan pedesaan, termasuk anak pegawai dan pekerja, para pegawai sendiri, serta pekerja sampai pembantu rumah tangga yang masih ingin meningkatkan kariernya memanfaatkan kesempatan yang baik tersebut.
Jika penanganan masalah pendidikan hanya berlandas pada teori tohrndike yakni pemberian ganjaran (reward) bagi yang patuh dan berhasil agar cenderung diulang-ulang, akan tetapi sebaliknya member hukuman (punishment) sampai jera bagi yang tidak patuh atau melanggar larangan, tanpa memperhatikan factor-faktor sosiologisnya, pendidikan kita akan kurang sukses. Terutama bagi peserta didik yang kondisi social-ekonominya kurang menyenangkan serta sarana prasarana kurang memadai, maka tanpa memperhatikan peranan sosiologi pendidikan dengan seksama, pendidikanpun akan kurang berhasil pula.
Apalagi untuk menangani kasus-kasus pendidikan yang berkaitan dengan masalah-masalah social, seperti kenakalan anak didik, putus sekolah, pengangguran, kemiskinan, penyalahgunaan obat terlarang, sebagainya maka peranan sosiologi pendidikan terasa sekali faedahnya.
Untuk itu, para guru harus paham dan dibekali dengan sosiologi pendidikan serta terampil mengoperasionalkanya dalam kegiatan pendidikan. Seorang guru juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam menciptakan suasana dalam kehidupan sekolah dan hal tersebut akan kita bahas bersama
  1.  Sosok Guru dalam sosiologi pendidikan
    Dari guru, sebagai pendidik dan pembangun generasi baru diharapkan tingkah laku yang bermoral tinggi demi masa depan bangsa dan Negara. Kepribadian guru dapat mempengaruhi suasana kelas/sekolah baik kebebasan yang dinikmati anak dalam mengeluarkan buah pikiran, dan mengembangkan kreatifitasnya ataupun pengekangan dan keterbatasan yang dialami dalam pengembangan pribadinya
  2. Peran Guru Dalam Proses Belajar Mengajar
    Guru yang kompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingat optimal. Berikut peranan guru yang dianggap paling dominan:
    • Guru sebagai demonstrator 
      Melalui peranya sebagai demonstrator atau pengajar, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkanya serta senantiasa mengembangkanya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam ilmu yang dimiliki karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai siswa 
    • Guru sebagai pengelola kelas
      guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkunagn belajar serat merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. 
    • Guru sebagai mediator dan fasilitator
      guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar 
    • Guru sebagai evaluator
      Guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik, kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat
    • Korektor
      Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat. 
    • Inspirator
      Sebagai inspirator, guru harus memberikan inspirasi bagi kemajuan belajar siswa. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik, guru harus dapat memberikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik. 
    • Organisator
      Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan guru, dalam bidang ini guru memiliki kiegiatan pengelolaan. Kegiatan akademik dan sebagainya. Semua diorganisasikan sehingga seperti mencapai efektifitas dan efisiensi dalam belajar pada siswa. 
    • Motivator
      Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar. 
    • nisiator
      Sebagai inisiator guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran 
    • Pembimbing
      Sebagai pembimbing guru hendaknya membimbing siswa menjadi manusia dewasa susila yang cakap. 
    • Supervisor
      Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran. Tekhnik-tekhnik supervise harus guru kuasai dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar